Seni Berinteraksi Dengan Gen Z
Table of Contents
Agak lucu juga nih ketika saya punya ide menuliskan artikel dengan tema berinteaksi dengan gen Z sementara saya sendiri belum memiliki anak. Namun pengalaman memiliki keponakan dan eks rekan kerja dari generasi Z, membuat saya jadi belajar bagaimana berinteraksi dengan mereka.
Jadi dulu ketika awal-awal hidup serumah dengan keponakan, kami sulit sekali beradaptasi. Selalu ada saja celah konflik antara saya dan keponakan. Kebetulan keponakan melanjutkan kuliahnya di kota tempat saya dan Ibu tinggal.
Baru 2 tahun lho sampai akhirnya saya bisa beradaptasi dengan keponakan yang berasal dari generasi Z ini. Akhirnya saya menyadari bahwa untuk berinteraksi dengan gen Z itu juga membutuhkan trik.
Kalau ibunya tentu saja bisa berinteraksi dengan anaknya sendiri donk, kan sudah tahu watak dari lahir. Sementara saya baru berinteraksi dengan keponakan saat usianya sudah 18 tahun.
Sementara dulu waktu masih bekerja kantoran, teman kerja saya juga berasal dari generasi Z tapi kali ini berjenis kelamin perempuan. Kalau keponakan saya kebetulan laki-laki. Memang interaksi dengan generasi Z baik itu laki-laki dan perempuan perlu pendekatan tersendiri.
Berikut pengalaman saya sebagai generasi milenial ketika berinteraksi dengan gen Z secara personal agar tetap akur:
1. Validasi Perasaan Mereka
Entah kenapa saya lihat beberapa generasi Z ini lebih suka menyatakan pedapat ketimbang memendam perasaan mereka. Kalau dulu kan saya sebagai generasi milenial ketika ditegur orang tua maka hanya bisa diam saja. Akan tetapi kalau generasi Z ini ketika ditegur justru akan menjawab sebagai bentuk argumen mereka.
Tentu saja tidak semua generasi Z begitu. Oleh karena itu, ketika sedang berinteraksi dengan gen Z maka sebaiknya kita mevalidasi perasaan mereka dengan cara mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah misalnya.
Tidak perlu keluh kesah juga sih, misal gen Z bercerita tentang pencapaian dan pengalaman yang sudah dilewati, maka tak ada salahnya kita sebagai orang yang lebih tua memberi perhatian atas cerita mereka.
Biasanya setelah kita memvalidasi perasaan anak Gen Z, mereka akan lebih terbuka dan kita pun bisa "masuk" ke hati mereka untuk memberikan sedikit nasihat misalnya. Intinya adalah kita harus menjadi pendengar yang baik bagi anak atau rekan kerja dari generasi Z.
2. Jangan Memaksakan Kehendak
Kalau dulu zaman saya masih kecil hingga remaja, terkadang ada sikap orang tua yang cenderung memaksakan kehendak kepada anak. Dan kami pun akan menurut secara sukarela meskipun dalam hati menentang.
Misalnya saja ketika malam tahun baru, saya diajak teman-teman SMP untuk merayakannya namun karena almarhum Bapak melarang, akhirnya saya tidak ikut pergi merayakan tahun baru. Padahal yang kepengen juga.
Kalau anak dari generasi Z mungkin sebagian dari mereka tidak bisa dilarang atau diperlakukan dengan keras karena bisa jadi akan lebih memberontak.
Di sinilah tantangan terbesar orang tua, nenek, om, tante atau bude dalam berinteraksi dengan mereka agar tidak terjadi gesekan.
Btw, mantan rekan kerja saya yang berasal dari generasi Z itu kalau diperhatikan sangat menjunjung tinggi work life balance. Jadi saya pernah menghubungi mantan kerja saya dulu untuk menanyakan masalah pekerjaan. Ajaibnya, dia tidak membalas pesan saya sampai hari berikutnya dimana sudah masuk hari kerja.
Awalnya saya tidak terbiasa dengan hal tersebut, mengingat dulu bos saya sering banget menghubungi untuk kaitan pekerjaan bahkan di malam hari sekalipun. Namun akhirnya saya mulai memahami, bahwa kita tidak bisa memaksakan ritme kerja dengan generasi Z. Yang ada justru nanti mereka nekat resign dari pekerjaan sementara kita masih membutuhkan kehadiran mereka di kantor.
Penutup
Sebenarnya cara kita berinteraksi dengan orang tua yang berasal dari generasi boomers pun bisa jadi akan berbeda. Saya membayangkan betapa kesalnya orang tua saya ketika harus menghadapi anaknya dari generasi milenial, wkwkwk.
Mungkin itu yang saya rasakan ketika menghadapi anak dari generasi Z. Intinya adalah masing-masing dari kita harus bisa memahami satu sama lainnya dan tidak menjadi egois.
Untuk kalian yang membutuhkan referensi mengenai beragam ilmu parenting, bisa meluncur ke blog Catatan Harian Rani R Tyas karena di sana ada banyak artikel yang bisa dijadikan referensi bagaimana pola pengasuhan terhadap anak.
Sebenarnya ada banyak tips parenting modern yang bisa kita ikuti, namun tentus aja kembali lagi kepada kebiasaan masing-masing keluarga. Kamu bisa mengkombinasikan beragam ilmu parenting tersebut untuk kemudian dipraktikkan sesuai dengan kondisi di rumah.

Posting Komentar