Sebuah Jejak Part I

11 komentar

Adalah Nayla Sofia, gadis berumur 22 tahun. Tercatat sebagai mahasiswi Universitas Jambi, program studi Bahasa Inggris. Dia perempuan yang belum berhasil merangkai tulip dan meletakkan di meja belajarnya. Pun, gagal ikut berorasi demi tegaknya suatu prinsip. Jauh, di hati kecilnya ada sebuah harapan untuk merubah diri, untuk selalu dikukuhkan jejaknya dalam ketaatan.

Nayla menutup buku diarinya sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam laci kecil di meja belajar. Meskipun telah menutupnya ia merasa baru kemarin kejadian demi kejadian berputar di kepala, membanting diri larut dalam rasa sedih.
 
Niat baik yang pernah dilambungkan tinggi ke angkasa, mentah kembali. Sebuah pernikahan. Tidak mudah untuk sebagaian orang tua, menikahkan anaknya yang masih status kuliah. Nayla sempat yakin. Nurul Falah adalah jodohnya. Pria yang menjadi dosen muda di Universitas Islam itu, sudah membuatnya pasrah untuk merebahkan hatinya. 
 
Hari itu, Nayla terlihat tertunduk tidak mampu menatap mata calon imamnya. Falah yang mempunyai mata sendu dan hangat, tiba-tiba berkilat gerang.

“Insyaallah, bulan November aku sidang, kita akan menikah setelahnya,” jelas Nayla tanpa mampu memandang sedikitpun.

“Alasan klise …. Aku tidak tahu jalan pikiran ayahmu? Kalau kita menikah, apa ruginya toh, kamu juga sudah hampir lulus ‘kan? Orang anaknya mau bahagia kok ribet betul,” murkanya.

Nayla terlihat bahunya terguncang, isakan terdengar. Batinnya rapuh, calon imamnya itu berbicara terlalu arogan, tangisnya terjatuh dalam keras. 

“Kau …. mencintaiku ‘kan? Falah mencari keyakinan di netra Nayla yang berhamburan ke sana kemari.

“Kita nikah di rumahku ‘yuk! Nanti ketika selepas wisuda kita baru menikah di rumahmu,” bujuk Falah. Sementara Nayla semakin sesenggukan. Dia tutup sebagian muka dengan kedua tangan. 

“Semoga kau benar-benar mencintaiku, sekarang buktikanlah!” Falah meninggalkan Nayla yang terdampar dalam keraguan. Menikah di rumah Falah atau ikut saran ayahnya menikah nanti selepas wisuda.







Halamansekolah.com
Seorang pembelajar, yang ketika merasa lelah, ia ingat bahwa hidup ini hanya untuk beribadah. Dan momen itu sebentar saja.

Related Posts

11 komentar

Posting Komentar