Rumah Idaman Mak Ipah

18 komentar

Mak Ipah terlihat mengelap suaminya dengan kain basah. Dari ujung kaki sampai ke rambut yang berwarna putih. Sesekali suami mak Ipak, Sobirin menekukkan kakinya, bersandar pada dinding kayu yang keropos. Sudah hampir dua purnama, tubuh ringkih itu hanya dapat berbaring dan duduk bersandar. Separuh badannya kaku. 

            Selesai mengelap badan, mak Ipah juga mengelap bekas suaminya berbaring dengan telaten. Dikumpulkan alas kain dalam satu wadah. Bau pesing menyeruak. Digantinya dengan yang baru. ia menuruni tangga rumah panggungnya dengan hati-hati. Ketika hendak membawa sebaskom kain kotor ke sumur, ia dapati pak RT dan seorang perempuan setengah baya menggunakan seragam rapi.

            “Nak, kemano, Lup?” Tanya mak Ipah.

            “Nak silahturahmi, Mak.” 

            “Ayolah, naik ke atas.” Mak Ipah, mengelap kedua tanganya menggunakan kain lusuh yang ia kenakan sebelum menjabat kedua tamunya. Berjalan merunduk, menaiki tangga. 

            “Ado program bedah rumah, Mak. Saya merasa mak layak mendapatkannya.” Pak RT menjelaskan maksud kedatangan mereka. 

            Setelah menggumpulkan KTP dan KK mereka berdua pamit, hendak jalan ke tempat warga yang lain.

            Mak Ipah terharu merasa diperhatikan. Angannya langsung berlari ke acara bedah rumah yang pernah dia lihat di TV. Dalam waktu semalam rumah reot, disulap menjadi rumah permanen idaman. Bersih, rapi, plus dengan isinya.

Kata pak RT, dia akan menerima sebanyak 17.500.000,- untuk membedah rumahnya. Sebanyak apa pula uang sejumlah itu. Seumur-umur dia belum pernah menyentuh uang puluhan juta. 

“Mak, minum!” pinta pak Sobirin. Seketika lamunan mak Ipah berhamburan. Bergegas dia ambilkan minum untuk sang suami.

###
Tangan mak Ipah bergetar menandatangani surat serah terima dana bedah rumah. Gores pena menunjukan huruf S, diambil dari namanya Saripah. Itupun sudah diajari berulangkali oleh perangkat dusun. 

“Mak, nanti uangnya sebanyak 17.500.000,- ya! 15 juta untuk material, nanti langsung mak terima. 2,5 juta untuk ongkos pembangunan.” Diterimanya uang sebanyak 2,5 juta.

Esoknya, material bangunan seharga 15 juta datang berangsur-angsur. Batu bata, pasir, besi, semen, kayu dan seng. Material di taruh sebelah kanan rumah panggungnya. Ditutup menggunakan terpal supaya tidak basah.

Pak Sobirin mengamati dari jendela rumah mereka. Hatinya gerimis, berpuluh tahun menikah dengan istrinya belum bisa memberi kehidupan layak. Rumah tinggal yang nyaman. Bukan  seperti sekarang, ketika angin datang, rumah panggung mereka ikut bergoyang. Merinding.  Atau ketika petir bergemuruh, cahaya kilatan begitu ketara dari celah-celah papan yang tidak tertutup sempurna, membuat hati ciut.

Bahkan pada kondisinya yang sekarang, ia hanya menjadi beban. Tidak bisa mencari nafkah. Hatinya iba, setiap hari menyaksikan istrinya berpacu dengan usia menanam sayuran yang hasilnya tidak seberapa.

Ah, butiran harus menggenang di pojok netranya.

###
Para pekerja mulai datang. Seharusnya bedah rumah dilakukan secara swadaya. Tetapi apa hendak dikata, di mana gotong royong jarang lagi dijumpa. Orang-orang pada sibuk sendiri, memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat. Sementara pekerjaan susah didapat. Lagi pula, pak Sobirin, tidak pernah ikut serta bergotong royong. Tubuh ringkihnya tidak mampu berdiri menolong.

Ada dua pekerja yang disewa mak Ipah. Seorang kepala tukang dan kernek. Kepala tukang dengan upah lebih tinggi 130.000 per hari. Sementara kernek hanya mengantongi 100.000 per hari. Mak ipah tidak sempat ke huma, sebab mengurusi tukang yang membangun rumahnya. Memasak untuk makan siang. Membelikan rokok dan menunggu tukang galon air untuk minum pak tukang. Ini lebih melelahkan daripada berhuma seharian.

Pondasi dibangun tepat di depan rumah panggung mak Ipah. Rencananya rumah panggungnya sekarang bisa dijadikan dapur. Sudah seminggu para tukang bekerja. Mak Ipah hatinya mulai gundah gulana, sebab uang yang ia pegang sekarang sudah tidak ada. Habis. Ia meminta maaf akhirnya, sang tukang diberhentikan dulu bekerja. 

Berat.

Tidak seperti bedah rumah di TV, semalam rumah reot menjadi cantik dan asri.

“Sudah terlanjur,” pikirnya. Ia pandangi cincin yang melingkar di jari, ia berniat menjualnya. 

“700.000,- Mak!” kata penjual emas. 

“Coba periksa lagi, tidak bisa nambah.” Jawabnya perih. Itu adalah cincin mahar dari sang suami. 

“Maaf, mak. Ini gram-graman.” Mak Ipah urung menjual cincinnya. Percuma. Tidak akan cukup untuk membangun rumahnya. Kemudian ia memberanikan diri ke kantor kepala dusun. Menggungkapkan masalahnya.

“Oh, ndak bisa, Mak! Harus selesai dalam satu bulan. Coba minta bantuan tetangga.”

“Bergotong royong juga memberi makan, Lup! Mak lah di do sen lagi.” Jawabnya bergetar.

“Gimana ya, Mak! Kami sebatas menyarankan dan kerja. Jadi ndak biso bantu.” Jawab perangkat desa dengan suara sendu.

“Jadi, solusinyo gimano?”

“Maaf, Mak! Kalau tidak selesai, biasanya material yang sudah diberi ditarik lagi.” Mak Ipah tidak bisa berkata-kata. Dalam hati hanya berujar, sudahlah memang bukan rejekinya.

Beberapa minggu kemudian, mobil terdengar berisik mengangkut material bangunan mak Ipah yang tersisa. Rumah permanen idaman hanya tinggal mimpi belaka. Hanya ada pondasi dengan dua tiang besi. Entah kapan rumah idaman mak Ipah berdiri?



Halamansekolah.com
Seorang pembelajar, yang ketika merasa lelah, ia ingat bahwa hidup ini hanya untuk beribadah. Dan momen itu sebentar saja.

Related Posts

18 komentar

  1. Selalu suka dengan tulisannya kk...💚

    BalasHapus
  2. Kehidupan mak ipah gambaran orang yang berjuang untuk hidup. Moga mak ipah tetap semangat^^

    BalasHapus
  3. Sedih aku mbak. Hebat mba, ceritanya membangkitkan kesedihan.

    BalasHapus
  4. Terhatu mb ,smoga rumah mak ipah bisa terwujud

    BalasHapus
  5. jahat bgt sih ini pemerintah, mau bantu tapi caranya ga baik. menurutku jangan hanya bertengger kisah di sini mbak. coba suarakan ke media masa atau ke lembaga yang terkait, org mau bantu ga ngert caranya kan g pinter

    BalasHapus

Posting Komentar