Krisan Postingan berjudul Pak Udin

14 komentar

Malam itu, seperti biasa setelah berhasil membuat sebuah tulisan aku posting di blog sebagail laporan ODOP. Aku posting dua tulisan satu untuk laporan hari ini, satu lagi untuk membayar hutang tulisan di hari Jum’at. Aku merasakan mood menulisku saat itu menurun. Kain bertumpuk dan pekerjaan IRT yang belum selesai membuat hasil tulisanku kurang memuaskan. Biasanya aku merasa puas setelah tulisan berhasil kubuat dan kuposting. Tidak untuk malam itu. 

            Selain kuposting di blog, tulisanku yang berjudul Pak Udin juga kuposting di group literasi. Baru beberapa detik kuposting langsung ada beberapa respon dari teman. 138 like, 3 kali dibagikan dan tidak sedikit yang membully. Respon pertama:

            “Ini jenis tulisan baru ya? Serius aku nanya? komennya

            “Hihihi, salah ya?” jawabku

            “Abang kira puisi?”

            Iya kayaknya puisi mbeling. Tapi entahlah kutulis aja.”

            “Oo okeh.” Dari komen ini, masuk komen dari teman yang lain. 

            “Paragraf nya cantik ya bang kek puisi, tertata rapi hehehe!”

            “Komen ini mengandung satirekah?” jawabku. Langsung dibalas dengan emot senyum. Dari komen yang masuk kusimpulkan bahwa tulisan yang kubuat gagal menemui pembaca. Kurang diterima. Bahkan ada yang krisan “gak ngerti aku, maaf!” huhuhu tulisanku tidak dimengerti pembaca. 

            Tetapi dari sekian yang komen, ada juga beberapa teman yang suka, yang menganggap itu bagus. Dan seorang teman yang mungkin kasihan denganku, langsung mengadd, menginbox.

            Klo memang mau menulis cermin, cerita mini, harus diberi tanda baca. Saya coba menggabungkannya dalam beberapa paragraph. Semoga berkenan” dikirimnya hasil gubahan tulisanku tersebut.

Pak Udin
Ini kisah tentang pak Udin. Pak Udin yang malang dalam kesakitan menuju umur yang ke tujuh puluhan.

Lihatlah, tubuh ringkih harus tetap tertopang, demi uang untuk belanjaan. Sebelum, fajar menyingsing, pak Udin sudah mencuci kain anaknya yang bau pesing dan memasangkan celana tanpa resleting.

Dengan mengangkasakan harapan semoga kelak anaknya jadi orang penting. Dihantarkan anaknya pergi sekolah, tanpa mikir pusing. Sebab biaya dan makan di tanggung si alim

Tergesa-gesa, ia kembali ke rumah membuka tokonya. Toko manisan yang hanya tersedia barang dua atau tiga, sebab modal sudah menjauh lari ke kantong bininya.

Duh, kasian pak Udin teraniaya, Bini hanya duduk dan main dengan gawainya. Mau pergi, diri sadar sudah renta. Tetap bertahan, pak Udin haknya dihina.

Sungguh jarang melihatnya tersenyum manja, kecuali, ketika ditanya “ Hebat kamu Pak! dapat bini muda.” Baru dia dapat tersenyum meski dipaksa, tidak ada yang tahu, kalau bertemu pak Udin sebentar saja kesakitan dapat ia sembunyikan seperti hal ubannya.

Tetapi kemiskinan itu kentara, datanglah bantuan untuk menolong pak Udin yang yang tak berharta, tetapi sayang, bantuan itupun berpindah pada quota internet bininya.

Duh, pak Udin, Kapankah berbahagia? Berganti nasib seperti yang orang-orang bisa. Bersabarlah! Barangkali kelak sang bini menyadari perbuatannya.

“Gimana enak dibaca ‘kan? Katanya

Wah, merasa beruntung bertemu dengannya, dapat ilmu baru, langsung kuedit postingan itu. Hatiku masih iba, dibully. Itu berpengaruh  dari caraku mengedit, ada rasa gemetar, sedikit kecewa, wah begitu ya aku? Padahal beberapa menit sebelumnya aku ingin buat sebuah novel. Boro-boro novel tulisan gini aja pembaca tidak mudeng. 

Selesai mengedit, aku kembali ke inbox facebook yang menggubah tulisanku tadi. Bermaksud berterima kasih. Dan ya Allah, tanpa ku sadar sudah menginboxnya dengan imot jempol tangan menunjuk ke bawah, berarti menyepelekan krisannya.

“ya, Allah Bang, maaf itu tadi aku salah kirim. Saking gugup terpecet sendiri, tidak maksud apa-apa, aku bahagia ngedit postingan tadi, sungguh!” pesan itu belum dibacanya juga. I menit. Lima menit sampai lima belas menit kemudian. 

Akupun semakin lemas, banyak membuat kesalahan hari ini.


           

Halamansekolah.com
Seorang pembelajar, yang ketika merasa lelah, ia ingat bahwa hidup ini hanya untuk beribadah. Dan momen itu sebentar saja.

Related Posts

14 komentar

  1. setiap crita ada setumpuk pelajaran yg kadang tidak terlihat..

    salam kenal.. dari grup seberang...

    BalasHapus
  2. Salam kenal, Terimakasih sudah membaca curhat ini

    BalasHapus
  3. I feel you mba, Gapapa, mba, namanya juga sedang dalam proses belajar, dikritik demi kebaikan *meski kadang dongkol juga sih, hahhaa...tetap semangat menulis ya mbaa...

    BalasHapus
  4. Kritik artinya sayang yah. Hihi
    Salam hangat dari Konstantinopel ❤️

    BalasHapus
  5. Kritikan itu sebenarnya sebuah tombak semangat loh, mbak😊 aku malah suka dikritik. Setidaknya aku jadi lebih tahu letak salah yang harus diperbaiki. Terus semangat, salam hangat dari Konstantinopel😉

    BalasHapus
  6. Akupun sering salah kirim emot , duh malu

    BalasHapus
  7. Salam kenal, ide muncul dan tenggelam tergantung mood. Ternyata mood berperan besar dalam idw tulisan

    BalasHapus
  8. Tulisan yg bgs. Salam kenal mba

    BalasHapus
  9. Tulisanny unik ka, semua bisa jd pembelajaran kedepan salam hangat dari konstantinopel

    BalasHapus
  10. Semangattt kakak nulisnya, salam dari keluarga Konstantinopel 😉

    BalasHapus
  11. Semangat kak, aku juga belajar banyak dari ODOP ini..tambah ilmu dan saudara ..

    BalasHapus
  12. Semangat mbak.. salam dari Konstantinopel.... 😊😊😊

    BalasHapus

Posting Komentar