Salah Ibu, Kalau Kita Miskin? Bagian Keempat

18 komentar
 
                Senja berlahan beranjak, sinar merah di ufuk barat mulai terbenam. Sri belum bangkit dari duduknya setelah meminta penjelasan tentang robohnya rumah. Dia belum mendapatkan ide dimana kira-kira bisa tinggal. Hati Sri mulai gelisah. Diminumnya air putih yang disuguhkan berkali-kali. Guna mengusir kecemasan yang melanda. Dia berusaha menutup rapat-rapat rasa itu, meskipun demikian Adit bisa merasakannya. Digenggam erat tangan ibunya. Mata itu menangkap kalau beban yang ditanggung ibunya sangatlah berat. 

“Ya Allah, dimana kami akan tinggal. Lahaula walaquwata ilabillah.” Gumamnya

“o iya Sri kamu dan anakmu akan tinggal dimana malam ini?” Tanya pak Tohir

Sri menggeleng. Pak Tohir terlihat berpikir sejenak. Dia pandangi dua beranak itu. Muncul rasa iba di hatinya. 

“Ya, kalau tidak ada tempat menginap, malam ini sementara tinggal di sini saja.” Ajaknya

“Ehem!” ibu Tohir dari arah dapur terbatuk, memotong perkataan Pak Tohir

“Maaf, ibu ada perlu sebentar, Pak!” ditariknya tangan suaminya itu.

“Ibu tidak setuju, Pak! Memang kita panti sosial? Kenapa mesti menginap di sini? Dia baru pulang dari kerja, tentu beruang. Kenapa tidak menginap di hotel? Pokoknya ibu tidak setuju.” Cerocos ibu Tohir sedikit berbisik. Dia takut bisa saja Sri jadi pelakor seperti di senetron, di tolong lalu nyolong suaminya.

Meskipun berbisik, Sri dengan jelas dapat mendengar pembicaraan mereka. Adu mulutpun terjadi, pak Tohir kalah telak, istri selalu benar. Tanpa mengurangi rasa tidak enak kepada tuan rumah, Sri lalu memohon diri. Berjalan menuruti kemana kaki melangkah. Hatinya tidak lepas mengucap Lahaula walaquwata ilabillah. Sungguh hanya pertolongan Allahlah yang bisa menolong.

“Kamu capek, Dit?” tanyanya

“Tidak kok, Bu! Adit tidak capek.”

“Maafkan ibu ya, Dit! Ibu belum bisa kasih kamu hidup yang enak.”

Adit tersenyum. “Asal Adit selalu dengan ibu hidup Adit terasa enak kok, Bu!”

Mereka saling tersenyum, ada air yang menggenang di sudut mata.
###
                Berjalan tanpa arah, membawanya berhenti didepan Mushala. Mushala dengan penerangan remang. Terlihat dinding kayu bercat putih yang suduh luntur. Ada dua pintu di sisi kanan dan kiri. Pintu itu tidak menutup penuh, hanya sepinggang orang dewasa, sehingga bisa melongok melihat isi dalam Mushala dari luar. Terlihat beberapa papan mulai tanggal. Di dalamnya bau kencing kambing menyeruak. Butiran-butiran hitam bertebaran.  Sepertinya Mushala itu sudah lama tidak digunakan.

                “Sayang sekali.” Pikir Sri. Kemana orang-orang, membiarkan Mushala terlantar. Begitu sibukkah sehingga tidak tersentuh? Sri yang tidak tamat SD merasakan sedih, yang dia tau Mushala adalah tempat belajar dan shalat. Jika kondisinya seperti itu, apakah orang-orang tidak shalat?

                Dengan ragu Sri masuk, meninggalkan tasnya di luar. Bismillah. Dibantu Adit Sri menyapu membersihkan kotoran kambing dan cicak yang mulai menebal. Dia tutup mulutnya dengan jilbab. Sekali-kali terbatuk-batuk karena debu.

                “Adit, kamu kalau sudah besar, rajin ke Mushala ya! Jangan biarkan Mushala sampai seperti ini.”

                “ Iya, Bu!”

                “ Kata pak Ustadz, laki-laki sholeh itu shalatnya di Mushala atau Masjid, bukan di rumah.”

                “Kata guru Agama Adit juga, Bu!”

                “Iya, ibu senang melihat orang-orang yang suka shalat di Mushala.”

Setelah lumayan bersih, Adit dan Sri mengambil air wudhu. Bersama-sama mereka melakukan shalat Maghrip berjamaah. Adit berdo’a dengan khusuk, sementara Sri bersandar di tiang Mushala, terserang kantuk dan lelah yang luar biasa. Tiba-tiba perut Adit berbunyi, teringatlah Sri kalau dia dan anaknya belum makan apa-apa.








Halamansekolah.com
Seorang pembelajar, yang ketika merasa lelah, ia ingat bahwa hidup ini hanya untuk beribadah. Dan momen itu sebentar saja.

Related Posts

18 komentar

  1. Kok saya jadi sedih membacanya. Bagus ceritanya mba,menyentuh hati pemabaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi rasa-rasanya agak bergeser dari part 1 ya, itulah masalah mood, dipaksain hasilnya gini

      Hapus
  2. MasyaAllah... mmakin keren. Ditunggu kelanjutannya kak

    BalasHapus
  3. Ceritanya bagus,...keren ,penasaran dengan endingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, sekarang sedang susah buat lanjutannya ini. galau

      Hapus
  4. Ceritanya keren, ditunggu kelanjutannya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, semoga menemui kelanjutannya, eh idenya

      Hapus
  5. Maa syaa Allah ditunggu kelanjutannya ya kak

    BalasHapus
  6. Yg rajin ke masjid atau musholla dit... Mangats

    BalasHapus
  7. saya salut sama yang bisa buat cerita bersambung kayak gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, ini sudah mandeg mbak, ragu lanjut apa sudahin

      Hapus

Posting Komentar