Kenapa Menulis?

3 komentar
Kenapa Menulis?

HAMKA dikenal sampai masa ini karena tulisannya. Petuahnya masih didengar, semangatnya masih menyebar, ilmunya masih keluar, mengalir dari generasi ke generasi. Sesuai janjiNya, pahala beliau juga akan terus bertambah sampai zaman berakhir.

Oleh karena itu, aku ingin menulis. Aku berusaha menulis. Aku belajar menulis dan konsisten menulis. Menulis apa saja, yang kira-kira bermanfaat dan dapat dibagikan. Mengikuti group kepenulisan di media sosial yang memberikan peluang satu hari satu postingan dengan tema yang ditentukan. Hal ini sangat membantu untuk menjaga rutinitas dalam menulis. Selalin itu akan ada improvisasi dalam tulisan. Biasanya, penanggung jawab tema pada hari itu akan mengomentari tulisan, bahkan ada yang memberikan reward. Percayalah, bakat akan terkalahkan oleh kerja keras saat latihan.

“Tulisannya tidak bagus!”

Membaca komen seperti itu, frustasi? Manusiawi. Tetapi tidak terlalu di simpan dalam hati, jadikan lecutan yang dapat menerbangkan lebih tinggi. Fokus kepada jumlah like yang didapat, atau pada komentar yang membangun. Positif! Positif! Berfikirlah positif terus, dan teruslah menulis. Hukum alam, jika kita berfikir positif, maka alam akan merespon dengan hal yang positif. Jika kita berfikir tulisan kita baik, maka itu benar benar akan baik. Asep Mahfudz (2012) mengatakan bahwa ucapan dan tindakan manusia merupakan produk dari apa yang dipikirkan. What you think you real. Apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi.

Ikuti kaidah- kaidah kepenulisan, selalu belajar. Hasilnya berbaik sangka pada Allah. Suatu saat nanti Allah akan berikan kemampuan dan tulisan yang smart. Amiin.

Kalau sudah berfikir seperti itu, insyaallah menulis menjadi cara agar semakin dekat dengan Allah. Perbanyak membaca buku-buku yang bermanfaat untuk memperkaya ide. Peka terhadap lingkungan untuk dapat dijadikan sumber inspirasi. Dan berusaha menulisnya dari hati, karena yang ditulis dari hati, akan diterima oleh hati para pembaca. Selamat datang ke dunia menulis wahai jiwa. Percaya diri dan istiqomahlah dalam menulis. 

Nasehat untuk diri sendiri.
Halamansekolah.com
Seorang pembelajar, yang ketika merasa lelah, ia ingat bahwa hidup ini hanya untuk beribadah. Dan momen itu sebentar saja.
Lebih baru Terlama

Related Posts

3 komentar

  1. kita adalah apa yang tulis dan ucapkan. apa yg ditulis dan ucapkan adalah apa yang dipikirkan. apa yg dipikirkan adalah apa dia lihata dan baca

    BalasHapus
  2. Tottaly agree kak "Percayalah, bakat akan terkalahkan oleh kerja keras saat latihan." Nice quote nih

    BalasHapus
  3. Ada ungkapan mengatakan konsisten mengalahkan si pintar , sehingga menjadi lecutan buat terus menulis.

    BalasHapus

Posting Komentar