Cerpen 1001 Kisah Tentang Ibu (1) Kecipak Sungai Kering

29 komentar

Kecipak Sungai Kering

Aroma matahari menguap, memanggang sebagian rerumputan, perdu-perdu kecil dan ilalang. Sementara, Jalanan merekah, batu-batuan kecil lepas ke sana ke mari, menerbangkan debu. Sementara aku dan teman- teman asyik bermain dengan kecipak sungai kering. Mencari ikan-ikan kecil dan kalau beruntung akan menemukan belut yang besar.

            Ku seka keringat yang bercampur dengan bau amis lumpur. Tapi tidak mengurangi kebahagiaan kami. Senang sekali rasanya. Sesekali Kami tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kekonyolan kami.

            Tiba-tiba dari arah selatan, ibu dengan menjinjing daster panjangnya berteriak hebat.

“Teruskan!”

“Dasar anak nakal, bukannya menolong di rumah, malah keluyuran!”

“Hayoo, teruskan!”

“Kalau tidak ku benamkan di rawa sekalian.” 

            Kata- kata ibu seperti petasan cina, entah apa lagi yang dia ucapkan. Aku dan teman-teman langsung berhamburan. 

            Bruuk. 

            Aku terjatuh, betambah bengislah ibuku mendapati seluruh pakaian dan mukaku berlumpur. 

            “Durhaka dengan ibumu ini!”

            “Jelek-jelek, ini ibumu yang melahirkanmu, tapi kata-katanya tidak kau dengar?”

            “Hah!”

            “Mau jadi apa?”

“Siapa yang mau nyuci baju kotormu!”

            Aku dan ibu berjalan beriringan. Beruntung jatuhku tidak terlalu keras. Tidak ada cidera yang berarti. Ku Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan berlahan. Mengurangi rasa sakit yang mendera. Tepatnya sakit bukan karena jatuh, tetapi tarikan tangan ibu di telingaku. Tarikan tangan ibu yang lumayan kuat, terasa sangat perih, takkala aku berusaha menghindarinya.  

            “Astaghfirullah.. .” seharusnya aku beristigfar berkali-kali, lalu meminta maaf kepada ibu. Tapi keseruan bersama teman-teman, selalu mengodaku untuk melakukan lagi dan lagi. Endingnya lagi- lagi sama. Ibu dengan bengisnya memarahiku. Dan aku tidak merasa jera.

###
            Itulah dulu aku. Aku kecil yang melakukan kesalahan berulang- ulang. Sekarang , ketika memori itu terputar kembali, ada rasa sesak di hati. Kenapa aku begitu tega menghiraukan perkataan ibu. Dalam diam aku selalu berdo’a semoga ibu selalu sehat, diberikan kesabaran yang besar. Dan perkataannya yang tajam dulu tidak menjadi kenyataan. Aku yakin itu terucap tidak dari hati. 

            Himpitan hidup, ekonomi yang mencekik, pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai dan perut yang lapar membuat seorang ibu mudah marah. Perkataan yang tak patut diucapkan pun terlontar. Duh, itupun aku yang memancingnya.

Sekarang, ketika aku menjadi seorang ibu dari dua orang anak, mendapati anak-anak bertingkah nakal. Aku langsung teringat kenangan bersama ibu. Allah bayar tuntas di dunia ini. Apa yang kuperbuat di masa kecil terbayar tuntas oleh anak-anakku sekarang.

“Lalu, apakah aku juga marah-marah?”

“apakah aku juga punya taring yang siap menerkam mereka?”

Awalnya iya, tetapi aku berusaha untuk tetap waras. Toh lebih nakal aku kecil daripada mereka. Toh sekarang alat rumah tangga elektrik sudah lengkap yang siap membantuku, sehingga bisa punya banyak waktu untuk anak, dibandingkan dengan ibuku dulu. 

Masa lalu bersamamu, insya allah membentuk ku baik di masa sekarang.

           

Halamansekolah.com
Seorang pembelajar, yang ketika merasa lelah, ia ingat bahwa hidup ini hanya untuk beribadah. Dan momen itu sebentar saja.

Related Posts

29 komentar

  1. Ending yang membangun harapan. Akhiran yang jadi awalan. Nice!
    .
    Ohya, main2 & follow ke blog saya yang masih belajar: www.Arsilogi.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih πŸ™

      Sudah saya follow, baru belajar follow followan. Jadi late respon 😁

      Hapus
  2. Nice..
    Main ke blog ku jangan lupa yaa heee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih πŸ™

      Itu baranda blognya keren, gimana buatnya 😊

      Tapi gak ada ikut nya di blognya dek, yang ada langganan

      Hapus
  3. Dan semua tentang ibu itu indah πŸ₯°. Marahnya,senyumnya, bentakannya,lemah lembutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencintai semua sisi dari sosok ibu ya mbak. Terima kasih

      Hapus
  4. Jangan lupa saling follow πŸ€—

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Semoga diberi kesabaran yang tak terbatas ya mbak. Love mom

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Pesan moralnya dapet banget. Keren

    BalasHapus
  8. Cerita yang luar biasa keren

    BalasHapus
  9. Maa shaa Allah. Keren kak kata demi kata terangkai indah. Aku blm bisa menyusun kalimat kayak kakak.

    BalasHapus
  10. Simple, berisi. NiceπŸ‘

    BalasHapus
  11. HeheeheHe ibu2 itu mestiiii ya berdaster.

    Tulisannya bagus kak 😊

    BalasHapus
  12. Kerenn bgt ka.. Semangat terus ya :')

    BalasHapus

Posting Komentar